MARWAN JAFAR
Indonesia

Marwan Jafar adalah Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi 2014-2016 pada Kabinet Kerja Jokowi-JK. Ia merupakan menteri pertama yang meletakkan pondasi bagi Kemendesa atau KDPDTT sejak nomenklaturnya diresmikan.

Sebelumnya, MJ (sapaan akrabnya) pernah menjabat anggota DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa. Ia pertamakali terpilih menjadi anggota DPR pada pemilu 2004 saat usianya baru 33 tahun. Kemudian, dua pemilu berikutnya 2009 dan 2014, ia terpilih kembali mewakili daerah pemilihan Jawa Tengah III.

Kini, MJ dipercaya sebagai Ketua Lembaga Pemenangan Pemilu DPP PKB. Jabatan ini diberikan karena MJ dinilai memiliki kapasitas, kepiawaian, kecerdasan serta energi yang luar biasa untuk mewujudkan kejayaan partai di ajang kompetisi pemilu maupun Pilkada.

Baca Selengkapnya

MarwanJafar.com - Perguruan Tinggi Pesantren Bisa Cetak Pemimpin Bangsa
Berita

Marwan Jafar: Perguruan Tinggi Pesantren Bisa Cetak Pemimpin Bangsa

Official : on 26 April 2017

MarwanJafar.com, Jakarta – Perubahan yang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak bisa dilepaskan dari peran mahasiswa dan juga pesantren sebagai lembaga pendidikan. Mahasiswa yang selalu mempunyai idealisme dan keberanian selalu mempunyai andil dalam setiap momen perubahan, disisi yang lain pesantren sebagai lembaga pendidikan tidak hanya mencetak sumber daya manusia yang fasih dalam ilmu agama akan tetapi juga mengerti tentang realitas kehidupan dan mempunyai peranan penting dalam kehidupan masyarakat.

Ketua Lembaga Pemenangan Pemilu Partai Kebangkitan Bangsa (LPP PKB) Marwan Jafar menegaskan bahwa peran mahasiswa yang berada dalam naungan pesantren bisa mempunyai andil besar dalam proses pembangunan bangsa.

“Perguruan tinggi yang berada dalam lingkup pesantren bisa mengintegrasikan antara pendidikan yang berorientasi pada pengembangan keilmuan dan skill disertai dengan pematangan karakter yang diasah dalam kehidupan keseharian dalam lingkup pesantren. Kedua hal ini bisa melahirkan Mahasantri yang bisa diandalkan dalam kehidupan bermasyarakat,” ujar Marwan Jafar saat menjadi pembicara dalam Kongres BEM Pesantren Seluruh Indonesia di Kajen, Pati, Selasa (25/4).

Marwan yang juga aktif dalam gerakan mahasiswa semasa di perguruan tinggi tersebut, menegaskan bahwa mahasantri harus mempunyai cita-cita untuk bisa berperan aktif dalam proses pembangunan negara.

“Mahasiswa yang di perguruan tinggi pesantren tidak boleh minder menghadapi mahasiswa perguruan tinggi umum. Karena dari segi sistem dan metode pengajaran, perguruan tinggi pesantren lebih baik dibandingkan perguruan tinggi umum. Saya yakin perguruan tinggi pesantren bisa mencetak calon pemimpin bangsa,” tegas Marwan.

Marwan menjelaskan bahwa perguruan tinggi di pesantren merupakan all in one campus system atau integrated system. Bahwa perguruan tinggi pesantren merupakan pengintegrasian nilai-nilai dan sistem yang ada di pesantren dengan pembelajaran di perguruan tinggi, seperti kiai atau rektor sebagai figur, sementara masjid sebagai pusat kegiatan serta asrama 24 jam dan juga intergrasi degan fasilitas lain seperti perpustakaan, ruang kuliah, lapangan olahraga, kediaman dosen, dan sebagainya.

“Jadi output yang dihasilkan oleh perguruan tinggi pesantren akan lebih komperhensif dibandingkan perguruan tinggi diluar pesantren. Selain adanya kontrol selama 24 jam, juga ada figur kiai yang menjadi teladan bagi para mahasantri,” ujarnya.

Selain itu, faktor lokasi pesantren yang kebanyakan berada dalam satu lingkungan masyarakat, membuat mahasantri bisa lebih mudah berdialektika dengan masyarakat, dan mempraktekkan apa yang ia dapatkan di bangku kuliah.

Apalagi imbuh Marwan yang menjadi menteri desa yang pertama di Indonesia tersebut menegaskan bahwa struktur masyarakat paling bawah yakni desa sangat membutuhkan peran dan skill para mahasiswa.

“Pengembangan masyarakat desa bisa menjadi target utama dalam hal pendidikan yang dilakukan perguruan tinggi pesantren. Karena proyek pengembangan masyarakat desa akan menjadi prioritas pembangunan dalam beberapa tahun ke depan,” pungkasnya. (Mutiul Alim)

RELATED POSTS

LEAVE A COMMENT