MARWAN JAFAR
Indonesia

Marwan Jafar adalah Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi 2014-2016 pada Kabinet Kerja Jokowi-JK. Ia merupakan menteri pertama yang meletakkan pondasi bagi Kemendesa atau KDPDTT sejak nomenklaturnya diresmikan.

Sebelumnya, MJ (sapaan akrabnya) pernah menjabat anggota DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa. Ia pertamakali terpilih menjadi anggota DPR pada pemilu 2004 saat usianya baru 33 tahun. Kemudian, dua pemilu berikutnya 2009 dan 2014, ia terpilih kembali mewakili daerah pemilihan Jawa Tengah III.

Kini, MJ dipercaya sebagai Ketua Lembaga Pemenangan Pemilu DPP PKB. Jabatan ini diberikan karena MJ dinilai memiliki kapasitas, kepiawaian, kecerdasan serta energi yang luar biasa untuk mewujudkan kejayaan partai di ajang kompetisi pemilu maupun Pilkada.

Baca Selengkapnya

Kegiatan

Marwan Jafar Menyampaikan Kuliah Umum di STMIK Indonesia Banjarmasin

Official : on 26 September 2016

MarwanJafar.com, Banjarmasin – Pada bulan September 56 tahun silam, Presiden Republik Indonesia Ir. Soekarno, menyampaikan pidato:

β€œTo Build the world a new!” – Membangun Tata-Dunia Baru! Pidato itu disampaikan oleh Presiden Soekarno hari Jumat 30 September tahun 1960 pada Sidang ke-15 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di markas PBB Lake Success, Long Island, New York, Amerika Serikat.

Pidato itu menembus zaman hingga hari ini. Tahun lalu, juga bulan September 2015, Sidang Tahunan PBB ke-70 yang dihadiri oleh wakil 193 negara anggota PBB, menyepakati suatu visi baru : A New World Order!” atau Tata Dunia Baru. Ada 17 sasaran pembangunan (Sustainable Development Goals) dengan 169 target dijadikan cetak-biru membebaskan dunia dari risiko perubahan iklim, pemanasan global, kemiskinan, ketidak-adilan, dan kelaparan. Demikian disampaikan Marwan Jafar dalam kuliah umum di STIMIK Indonesia Banjarmasin Rabu 29/09/2016.

Mantan Menteri Desa pertama di Indonesia ini mengungkapkan bahwa Negara RI, Rakyat Indonesia, juga masyarakat di Provinsi Kalimantan Selatan, tidak bebas risiko-risiko ini. Ini pula tantangan mencetak kader-kader handal dari masyarakat, Bangsa, dan Negara saat ini dan masa-masa datang.

“Kita lihat di tengah arus globalisasi dewasa ini, ternyata masih sulit membebaskan dunia dari ancaman dan risiko-risiko tersebut di atas”, kata Marwan.

Kini peneliti berupaya mendaur ulang riset empirik dan kajian dari ekonom Thomas Robert Malthus akhir abad 18. Bahwa pertumbuhan penduduk mengikuti deret ukur, sedangkan pasokan pangan dari negara bergerak menurut deret hitung. Ini memicu risiko kelaparan dan kemiskinan.
Teori Malthus banyak dikritik, sebab sains dan teknologi dapat melipatkan-gandakan produksi pangan. Begitu pula, hasil riset penerima Nobel Amartya Sen di India akhir 1940-an, bahwa kemiskinan ternyata bukan semata-mata pada problem produksi pangan, tetapi juga distribusi pangan yang tidak merata.

Namun, lanjut Marwan, kita juga was-was melihat ledakan penduduk di India dan Tiongkok. Tahun 1950, penduduk dunia hanya berkisar 1,5 miliar. Kini penduduk dunia berkisar 6,5 miliar jiwa. Jadi, pertumbuhan penduduk sekitar 50 tahun lebih hampir dua kali lipat pertumbuhan penduduk selama 2000 tahun hingga 1950.

Kita dapat belajar dari pengalaman Norwegia. Negara ini hanya berpenduduk kira-kira 5 (lima) juta jiwa awal abad 21. Model Norwegia saat ini selalu dijadikan barometer tata-kelola SDM unggul yang melahirkan kesejahteraan rakyat dan sehat-lestari lingkungan. Norwegia mendefinisikan kesejahteraan rakyat = modal keuangan) + RC (real capital) atau modal riil + modal sumber daya manusia + sumber daya alam + kapasitas kinerja kelembagaan + TC (modal sains dan teknologi (Moe, 2010: 7-12). Modal sumber alam (NC) terdiri dari (a) modal alam berbasis pasar (market-based capital/MNC) seperti gas, minyak, mineral, perikanan, dan lain-lain; (b) modal alam yang tidak dapat diperjual-belikan (non-market-based capital/NMNC) seperti fungsi ekosistem, keragaman-hayati, dan lain-lain.

Apa rahasia strategi SDM Norwegia? Norwegia mampu mencetak kader-kader unggul bersinergi dengan upaya konservasi ekosistem yang bernilai komersial dan non-komersial. Hasilnya, model Norwegia menghasilkan 985 miliar dollar AS kekayaan Norwegia yang hanya berpenduduk 5.213.985 jiwa Mei tahun 2016 di zona seluas 385.252 km2 (Statistics Norway, 2016). SDM-SDM kita tentu saja juga berpeluang untuk lahir dan tumbuh sebagai kader-kader profesional dan unggul seperti di Norwegia. Dalam hal ini, kader-kader unggul tidak hanya diuji dari keahlian mengelola kapital-kapital tersebut di atas, tetapi juga diukur dari keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah Swt.

Kini kebutuhan lahir dan tumbuhnya kader-kader agamis, unggul dan profesional semakin dibutuhkan agar kita tidak lagi tergerus oleh kolonialisme baru yang dibungkus dalam format globalisasi. Kita perlu menyongsong globalisasi dengan memproduksi SDM-SDM yang handal di berbagai bidang jasa (advanced producer services/APS) dari jaringan-kerja skala dunia (global-network) seperti kota Singapura di Asia Tenggara. (Zachary P. Neal, 2012: 151), ungkap tokoh asal Pati Jawa Tengah ini.

Di masa silam, Nusantara dapat memasok kebutuhan komoditi dunia, seperti lada, pala, cengkeh, jati, kopi, kopra, dan lain-lain. Tetapi, kita sulit mencetak SDM unggul, karena penjajahan. Kini kita perlu belajar dari kota Nagasaki di Jepang. Akhir abad 16, kota ini hanya satu desa nelayan. Namun, armada dagang Portugal membangun pelabuhan di Nagasaki tahun 1569-1753. (C.R. Boxer, 1993:100-101). Tahun 1575, Portugal juga membangun benteng di Ambon, Maluku (M.C. Ricklefs, 1991:25) dan kolonialis Belanda membangun Batavia.

Mantan Ketua Fraksi PKB DPR RI terlama ini menerangkan bahwa sejak awal abad 20 sampai awal abad 21, Nagasaki menjadi barometer kemajuan industri berat Jepang. Kota Nagasaki dan Jepang tidak kaya sumber alam seperti Nusantara. Di sini pula, kebutuhan lahir dan tumbuhnya kader-kader agamis, profesional dan unggul agar kita tidak terjebak pada perangkap paradoks selama hampir 400 tahun terakhir. Yakni zona-zona kaya sumber alam selalu terjebak pada kemiskinan atau konflik, atau kedua-duanya. (Auty, 1993; Sachs and Warner, 1997; Humphreys, Sachs and Stiglitz, 2007:1)

Kita perlu belajar, misalnya, mengapa Nagasaki berhasil dijadikan pusat produksi kapal Mitsubishi (kontraktor Angkatan Laut Jepang), Mitsubishi Steel and Arms Works, Akunoura Engine Works, Mitsubishi Arms Plant, Mitsubishi Electric Shipyards, Mitsubishi Steel and Arms Works, dan Mitsubishi-Urakami Ordnance Works. Akibatnya, Nagasaki menjadi sasaran bom Sekutu pada Perang Dunia II. (US GPO, 1946) Pasca Perang Dunia II, Nagasaki membangun lagi jaringan-kerja dagang dunia, perikanan dan produksi kapal (Gian P. Gentile, 2000: 86-87) lanjut Marwan.

Kini kader-kader unggul juga diukur dari kemampuan menyediakan jasa-jasa jaringan kerja skala global. Ini pula faktor penentu daya saing setiap kota, zona pasar, dan negara-negara di dunia (Zachary P. Neal, 2012; Augusto Cusinato, et al, 2015; Phil Hubbard, 2006:174). SDM dan zona-zona yang sulit melayani jasa jaringan-kerja produksi, nilai, dan mata-rantai komoditi dunia, berdaya-saing rendah (Gereffi & Korzenwiecz, 1994; Gereffi et al., 2005; Dicken et al., 2001; Henderson et al., 2002, Ernst & Kim, 2002).

Jaringan bisnis dunia membutuhkan SDM dan zona-zona pasar penyedia jasa bidang telekomunikasi (Rimmer 1999), infrastruktur bandara (Derudder & Witlox 2005), koneksi Internet (Choi, et al. 2006) yang memudahkan aliran barang, jasa, manusia, informasi, dana dan komoditi global (Smith & Timberlake, 1995; Derudder & Taylor, 2005) ujar alumni Perguruan Islam Mathali’ul Falah milik alm. DR (Hc) KH. M.A. Sahal Mahfudh ini.

Upaya membangun kader-kader penyedia jasa-jasa jaringan kerja dan mata-rantai nilai global juga tidak mudah. Karena jaringan-kerja global telah terpateri erat ke dalam mata-rantai perusahan raksasa serikat dagang jaringan keluarga dan diaspora di berbagai zona pasar dunia. Tentunya ini pula dorongan bagi kita untuk mencetak kader-kader agamis, profesional dan unggul saat ini dan ke depan. ***

RELATED POSTS

LEAVE A COMMENT