MARWAN JAFAR
Indonesia

Marwan Jafar adalah Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi 2014-2016 pada Kabinet Kerja Jokowi-JK. Ia merupakan menteri pertama yang meletakkan pondasi bagi Kemendesa atau KDPDTT sejak nomenklaturnya diresmikan.

Sebelumnya, MJ (sapaan akrabnya) pernah menjabat anggota DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa. Ia pertamakali terpilih menjadi anggota DPR pada pemilu 2004 saat usianya baru 33 tahun. Kemudian, dua pemilu berikutnya 2009 dan 2014, ia terpilih kembali mewakili daerah pemilihan Jawa Tengah III.

Kini, MJ dipercaya sebagai Ketua Lembaga Pemenangan Pemilu DPP PKB. Jabatan ini diberikan karena MJ dinilai memiliki kapasitas, kepiawaian, kecerdasan serta energi yang luar biasa untuk mewujudkan kejayaan partai di ajang kompetisi pemilu maupun Pilkada.

Baca Selengkapnya

Marwan Jafar (MJ)
Berita

Marwan Jafar: Full Day School Sebaiknya Dihentikan

Official : on 13 Juni 2017

MarwanJafar.com,┬áJakarta – Ragam reaksi mewarnai kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) yang ingin menerapkan Full Day School (FDS), yakni 8 jam belajar dengan lima hari sekolah pada tahun ajaran baru 2017/2018.

Munculnya reaksi itu sebenarnya bukanlah hal baru. Sebab pada tahun lalu, wacana kebijakan FDS telah menuai pro dan kontra dari sejumlah kalangan, hingga akhirnya dibatalkan Presiden Joko Widodo.

Atas dasar itu, politisi senior partai Kebangkitan Bangsa meminta pemerintah mengevaluasi kebijakan tersebut sebelum benar-benar diterapkan dalam waktu dekat ini.

“Full Day School itu kebijakan kontroversial, pro-kontra, sebaiknya dievaluasi dan dihentikan saja, karena jelas-jelas mengganggu anak-anak belajar agama,” katanya di Jakarta, Senin (12/6).

Menurut Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi yang pertama itu, ada ribuan anak sekolah yang melanjutkan kegiatan belajarnya pada siang hari di madrasah diniyah. Anak-anak tersebut, lanjutnya, tak berasal dari satu desa yang sama. Sehingga, jika digabung dalam satu sekolah FDS, tentu akan berdampak terabaikannya pendidikan keagamaan.

“Madrasah diniyah itu bukan hanya mengaji, tapi di sana ada juga kurikulum yang melekatkan karakter dasar anak, perilaku dan inklusivitas,” tegas tokoh yang digadang-gadang bakal mencalonkan diri di Pilgub Jateng 2018 ini.

Namun begitu, Marwan tak menampik masih ada ruang dialog untuk dibicarakan dalam rangka mencari solusi bersama. Prinsipnya, agar keduanya jalan, diperlukan sinergi antara sekolah formal dan non formal. “(tanpa dialog & sinergi) Jika FDS tetap dilanjutkan, bisa jadi ribuan madrasah diniyah akan terabaikan,” tandasnya (hl).

RELATED POSTS

LEAVE A COMMENT